8 Kandungan Herbal dalam Susu Ostofit dan Potensi Manfaatnya Berdasarkan Penelitian

Segelas susu herbal Ostofit dengan kandungan herbal jahe, kunyit, temulawak, hingga sereh.

Ostofit merupakan susu herbal yang memadukan susu sapi dengan ekstrak herbal. Secara umum, kandungan bahan alaminya terdiri dari jahe, kayu manis, temulawak, kunyit, daun kelor, pare, daun sereh, dan daun salam yang formulasinya berbeda pada setiap varian.

Masing-masing memiliki senyawa bioaktif yang telah banyak diteliti, terutama terkait inflamasi, nyeri, metabolisme glukosa, tekanan darah, dan berbagai aspek kesehatan lainnya.

Melalui racikan ini, potensi manfaat herbal Ostofit dihadirkan untuk melengkapi nutrisi harian pendukung kebugaran tubuh.

Lantas, apa saja bahan yang digunakan dalam Ostofit dan apa yang sebenarnya ditemukan dalam penelitian mengenai bahan-bahan tersebut? Berikut penjelasannya.

Apa Saja Kandungan Herbal dalam Ostofit?

Berikut gambaran umum kandungan ekstrak herbal dalam susu Ostofit:

Kandungan HerbalVarian
JaheOriginal, Parvia, Morigo
Kayu manisOriginal, Parvia
TemulawakOriginal, Parvia, Morigo
KunyitParvia, Morigo
Daun kelorMorigo
PareParvia
Daun serehOriginal, Morigo
Daun salamOriginal, Morigo
Delapan herbal alami yakni, jahe, pare, daun kelor, temulawak, kunyit, kayu manis, daun salam, sereh

Jahe

Jahe (Zingiber officinale) merupakan rempah dengan senyawa aktif gingerol, zingerone, dan shogaol. Senyawa tersebut dikenal luas memiliki kapasitas antioksidan serta antiinflamasi.

Rimpang penghangat ini berpotensi membantu mengurangi keluhan rematik dan nyeri sendi hingga mengontrol gula darah.

Sejumlah laporan ilmiah menunjukkan bahwa jahe berpotensi mengurangi gejala rematik pada manusia maupun hewan.

Salah satu studi menemukan bahwa kombinasi herbal jahe, lada hitam, dan kurkumin (senyawa dalam kunyit) berpotensi mengurangi peradangan dan nyeri sendi akibat osteoartritis (OA) lutut.

Selain itu, sebuah systematic review dan meta-analysis yang melibatkan 10 penelitian uji klinis menemukan bahwa suplementasi jahe berpotensi membantu menurunkan gula darah puasa, HbA1c, serta tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita diabetes tipe 2.

Meskipun kaya akan manfaat, jahe juga memiliki efek samping jika dikonsumsi secara berlebihan di antaranya diare, kondisi tidak nyaman pada lambung, iritasi mulut atau tenggorokan, dan sensasi terbakar pada dada.

Kayu Manis

Kayu manis memiliki aroma yang khas berkat sinamaldehida, yakni senyawa aktif yang dapat melawan kuman dan radikal bebas. Selain itu, ada kandungan eugenol dan kumarin yang bersifat meredakan inflamasi.

Rempah ini telah dikaji perannya dalam membantu pengelolaan tensi dan kadar glukosa, serta mengurangi rasa kaku pada area persendian.

Berdasarkan tinjauan penelitian yang menggabungkan hasil dari 9 uji klinis, konsumsi kayu manis dapat membantu menurunkan sistolik dan diastolik.

Beberapa kajian lain juga menunjukkan bahwa kayu manis berpotensi dalam membantu menurunkan kadar gula darah puasa dan meningkatkan respons tubuh terhadap insulin pada penderita diabetes tipe 2 maupun pradiabetes.

Mengonsumsi kayu manis tidak boleh secara berlebihan karena dapat memberikan efek samping yang tidak baik bagi tubuh seperti penurunan gula darah secara drastis, gangguan pernapasan, hingga kerusakan hati.

Temulawak

Temulawak merupakan rimpang asli Indonesia yang memiliki lebih dari 40 senyawa aktif, didominasi kurkuminoid dan xanthorrhizol yang bersifat antioksidan dan antiradang.

Bahan alami bercita rasa pahit dan getir ini telah dieksplorasi karena kemampuannya dalam membantu mengurangi gejala osteoarthritis atau pengapuran sendi, menjaga kesehatan hati hingga pencernaan.

Salah satu penelitian di UGM menjelaskan bahwa kombinasi ekstrak temulawak dengan jahe, kedelai, dan kulit udang dapat mengurangi gejala pada pasien osteoartritis lutut.

Meskipun kaya manfaat, temulawak disarankan hanya dikonsumsi secukupnya karena jika berlebihan maka dapat menyebabkan efek samping seperti mual hingga diare. Reaksi alergi juga bisa terjadi seperti gatal-gatal dan pembengkakan pada bagian wajah.

Daun Kelor

Daun kelor (Moringa oleifera) mengandung senyawa seperti flavonoid dan alkaloid yang bekerja menangkal radikal bebas serta membantu mengurangi peradangan di dalam tubuh.

Herbal yang tumbuh subur di Indonesia ini ternyata memiliki potensi manfaat kesehatan seperti menurunkan kolesterol dan membantu memperlancar aliran darah.

Penelitian menemukan bahwa senyawa fitokimia dalam daun kelor bertindak sebagai vasorelaxant alami. Artinya, kelor membantu merilekskan dan melebarkan pembuluh darah, sehingga aliran darah menjadi lebih lancar dan tekanan darah tinggi dapat terkontrol.

Sebuah tinjauan sistematis terhadap 25 jurnal ilmiah menyimpulkan bahwa kelor bekerja aktif membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) sekaligus meningkatkan kolesterol baik (HDL) pada penderita hiperlipidemia

Meskipun gampang ditemui dan banyak penelitian untuk mengupas manfaatnya, konsumsi daun kelor secara berlebihan tidak dianjurkan karena bisa menyebabkan gangguan pencernaan dan tekanan darah rendah.

Kunyit

Kunyit (Curcuma longa L.) mengandung zat aktif kurkumin yang memberikan warna kuning oranye alami dan minyak atsiri. Keduanya dikenal dengan sifat antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba yang kuat.

Kandungan kurkumin telah banyak diteliti terkait dengan kesehatan tubuh. Kurkumin dalam kunyit mampu membantu meredakan gejala radang sendi hingga meningkatkan kapasitas antioksidan.

Sebuah studi menemukan bahwa ekstrak kurkumin dapat meredakan nyeri pada penderita osteoartritis dan umumnya memiliki efek samping yang relatif ringan.

Berbagai data di PubMed juga menemukan bahwa kunyit membuat kemampuan tubuh alami kita dalam melawan radikal bebas meningkat, serta membantu mengurangi stres oksidatif yang dapat merusak sel pembentuk tulang atau jaringan pelindung sendi.

Kunyit umumnya aman dan hanya memiliki efek samping yang ringan, tetapi konsumsi berlebihan atau bentuk suplemen dengan dosis tinggi dapat memicu gangguan seperti penurunan gula darah drastis hingga hambatan penyerapan zat besi.

Pare

Pare (Momordica charantia L.) kaya akan nutrisi serta fitokimia fungsional seperti charantin, polypeptide-p (sering disebut insulin nabati), dan vicine.

Meskipun rasanya pahit, senyawa aktif pada pare ternyata memiliki potensi membantu regulasi glukosa bagi penderita diabetes.

Uji klinis pada 142 partisipan menemukan bahwa ekstrak peptide pare membantu mengontrol kadar gula darah dalam tubuh. Studi lain pada subjek pradiabetes juga memperlihatkan respons glukosa yang lebih baik saat menjalani tes toleransi glukosa oral.

Meskipun begitu, pare tetap tidak boleh dikonsumsi berlebihan baik dalam bentuk buah ataupun suplemen karena dapat memicu gangguan pencernaan, penurunan gula darah drastis, hingga mual akibat rasa pahitnya.

Daun sereh

Daun sereh (Cymbopogon citratus) merupakan tanaman aromatik yang kaya akan minyak atsiri, flavonoid, saponin, dan tanin.

Selain menambah keharuman yang menenangkan pikiran, sereh memiliki sifat antiinflamasi hingga antijamur.

Publikasi pada Pharmacognosy Journal menyoroti potensi manfaat sereh dalam membantu meredakan kecemasan.

Perlu dicatat bahwa penggunaan sereh yang berlebihan baik dikonsumsi maupun dioles dapat menyebabkan pusing atau sensasi kepala berputar hingga diare.

Daun Salam

Daun salam kaya akan zat aktif seperti flavonoid, minyak atsiri, tanin, polifenol, serta nutrisi seperti vitamin A, B6, dan C.

Herbal bernama latin Syzygium polyanthum ini telah lama dikaji perannya dalam membantu memelihara kestabilan glukosa dan membantu kontrol sirkulasi darah.

Sebuah tinjauan penelitian menyoroti potensi manfaat tumbuhan aromatik ini, termasuk membantu menjaga kadar gula darah dan tekanan darah.

Namun, jangan sampai mengonsumsi daun salam secara berlebihan karena dapat menyebabkan efek samping seperti mual dan sembelit.

Mengapa Herbal Ini Digunakan dalam Ostofit?

Setiap bahan alami memiliki karakteristik khas serta kandungan fitokimia yang terdokumentasi dalam berbagai literatur ilmiah.

Pembahasan literatur dalam artikel ini merujuk pada sifat tanaman aslinya secara independen, bukan klaim uji klinis langsung terhadap produk jadi.

Kombinasi bahan dipilih untuk menghadirkan kebaikan dari manfaat susu dan herbal dalam satu kemasan, yakni susu herbal Ostofit

Hal yang Perlu Dipahami tentang Bukti Ilmiah

Berbagai publikasi ilmiah menunjukkan bahwa aneka tumbuhan tersebut membawa potensi manfaat bagi kesehatan.

Kendati demikian, efektivitasnya tidak selalu dapat disamakan dengan efek konsumsi produk pada setiap individu.

Sebagian penelitian masih dilakukan pada peserta yang terbatas, di laboratorium, atau menggunakan ekstrak dengan dosis tertentu.

Konsumsi susu herbal Ostofit sebaiknya tetap diimbangi dengan pola makan bergizi, aktivitas fisik yang cukup, dan gaya hidup sehat untuk mendukung kesehatan tulang dan sendi.

FAQ Seputar Formulasi dan Manfaat

Apa saja rincian kandungan herbal dalam Ostofit?

Komposisi bahan disesuaikan menurut varian. Varian Original memadukan jahe, temulawak, kayu manis, daun salam, dan daun sereh.

Varian Morigo diperkaya ekstrak daun kelor, sedangkan varian Parvia menggunakan ekstrak pare tanpa tambahan gula pasir.

Apa saja potensi manfaat herbal untuk tubuh?

Secara umum, paduan bahan alami seperti jahe, temulawak, dan kunyit difokuskan untuk mendukung kenyamanan gerak sendi.

Sementara itu, kelor, pare, dan kayu manis membantu melengkapi asupan harian bagi pengelolaan metabolisme dan kestabilan gula darah.

Mengapa pare digunakan dalam varian Parvia?

Pare mengandung senyawa aktif yang banyak diteliti kaitannya dengan metabolisme glukosa.

Hal ini menjadikan varian Parvia cocok bagi konsumen yang ingin membatasi asupan gula harian, termasuk penderita diabetes.

Mengapa daun kelor menjadi bahan formulasi Morigo?

Daun kelor kaya akan senyawa bioaktif flavonoid dan alkaloid yang banyak diteliti potensinya dalam membantu memperbaiki profil lipid (kolesterol) serta parameter metabolik tubuh.

Apakah kandungan dalam susu herbal dapat menggantikan obat dokter?

Tidak. Produk ini merupakan pangan bernutrisi berbasis susu dan rempah alami, bukan obat medis pengganti resep dokter.

Bagi Sahabat yang sedang menjalani terapi medis atau memiliki kondisi kesehatan khusus, disarankan tetap berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.

Penulis: Tim Edukasi Ostofit
Terakhir diperbarui: 18 September 2026
Disclaimer: Konten ini disusun berdasarkan referensi medis terpercaya untuk tujuan edukasi, bukan pengganti saran medis profesional. Selalu konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan pengobatan.