DAFTAR ISI
Banyak orang bingung nyeri sendi yang sedang diderita termasuk ke dalam penyakit “asam urat” atau “rematik”. Keduanya merupakan kondisi yang berbeda meskipun gejalanya cukup mirip.
Faktanya, rematik adalah istilah medis untuk segala penyakit yang menyebabkan nyeri akibat peradangan pada tulang, sendi, otot, atau jaringan di sekitarnya. Jadi, bukan satu penyakit tertentu.
Beberapa penyakit yang menyebabkan nyeri sendi antara lain asam urat (gout), Artritis Reumatoid (RA), dan pengapuran sendi atau Osteoartritis (OA). RA adalah penyakit yang kerap disebut sebagai penyakit rematik.
Meski sama-sama menyebabkan gejala nyeri sendi, ketiganya memiliki penyebab, ciri-ciri, dan penanganan yang berbeda. Berikut cara membedakan asam urat, rematik, dan pengapuran sendi.
Apa Itu Asam Urat (Gout)?
Gout atau asam urat adalah salah satu jenis radang sendi yang terjadi ketika kadar urat dalam tubuh terlalu tinggi hingga terbentuk kristal monosodium urat di dalam atau sekitar sendi. Kristal tersebut memicu peradangan yang menyebabkan nyeri dan pembengkakan.
Penyakit ini sering mengenai sendi di bagian kaki, terutama jempol kaki. Namun, kondisi ini juga dapat menyerang sendi lain.
Menurut analisis Global Burden of Disease (GBD) 2021, sekitar 55,8 juta orang di dunia mengalami gout pada 2020. Jumlah ini diperkirakan mencapai 95,8 juta pada 2050. Di Indonesia, belum ada studi nasional yang mendata jumlah orang dengan kondisi ini.
Penyebab dan Faktor Risiko Asam Urat
Gout dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Para peneliti telah menemukan puluhan gen yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap penyakit ini.
Jadi, jika Anda memiliki anggota keluarga (orang tua, saudara kandung) yang merupakan penderita asam urat, berarti Anda memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa.
Faktor genetik dan riwayat keluarga memang dapat meningkatkan risiko penyakit ini, tetapi pola makan pemicu asam urat, berat badan, fungsi ginjal, usia, konsumsi alkohol, minuman berpemanis, kondisi kesehatan tertentu, dan beberapa obat juga dapat memengaruhi risiko terjadinya gout.
Gejala Asam Urat
Penderita biasanya merasakan nyeri yang amat hebat, berdenyut-denyut, dan terasa berat. Sendi penderita penyakit ini juga dapat membengkak, memerah, dan terasa panas.
Nyeri biasanya mencapai intensitas tertinggi pada awal serangan, kemudian berangsur membaik dalam beberapa hari hingga sekitar satu atau dua minggu.
Pada orang yang sudah lama memiliki penyakit ini atau sudah sering mengalami serangan gout, gejala lain yang mungkin terjadi meliputi sendi yang kaku dan sulit digerakkan hingga munculnya benjolan yang dinamakan tofus.
Keluhan penyakit ini bisa terjadi pada semua sendi. Namun, gout paling sering menyerang sendi di jempol kaki.
Ciri Khas Asam Urat
Berikut adalah ciri khas penyakit gout yang umum dirasakan:
- Muncul tiba-tiba
- Nyeri sangat intens
- Sering menyerang satu sendi
- Sering mengenai jempol kaki
- Bengkak, merah, dan hangat
- Serangan biasanya berlangsung beberapa hari hingga sekitar 1–2 minggu
- Dapat tidak bergejala di antara serangan
- Pada gout yang berlangsung lama dapat muncul tofus/tophi
Pencegahan dan Cara Membantu Mengelola Asam Urat
Beberapa langkah yang dapat membantu menurunkan risiko kekambuhan gout antara lain:
- Menjaga berat badan tetap sehat
- Membatasi makanan dan minuman tinggi purin
- Rutin melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan
- Memenuhi kebutuhan cairan tubuh
- Mengikuti anjuran dokter dan mengonsumsi obat jika memang diresepkan
Apa Itu Artritis Reumatoid (RA) yang Sering Disebut Rematik?
Artritis Reumatoid (RA) merupakan salah satu penyakit yang sering disebut “rematik” oleh masyarakat Indonesia. Namun, secara medis, istilah ini dapat merujuk pada berbagai penyakit yang menyerang sendi, otot, tulang, atau jaringan di sekitarnya.
Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan yang melapisi sendi sehingga menimbulkan peradangan, nyeri, bengkak, dan kaku. Jika berlangsung lama, peradangan dapat merusak tulang dan tulang rawan sehingga fungsi sendi terganggu.
Menurut data Perhimpunan Reumatologi Indonesia, diperkirakan 1,3 juta orang Indonesia menderita RA pada tahun 2020. Angka ini berdasarkan prevalensi global 0,5-1% dari total penduduk Indonesia 268 juta jiwa.
Penyebab dan Faktor Risiko Rematik (Artritis Reumatoid)
Penyebab pasti RA belum diketahui. Namun, faktor genetik dan lingkungan dapat memengaruhi risiko seseorang mengalami penyakit ini.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko RA antara lain merokok, faktor genetik, faktor lingkungan, serta kondisi tertentu yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Penderita RA dapat mengalami periode ketika gejalanya aktif atau kambuh, kemudian membaik atau menjadi lebih ringan.
Gejala Rematik
Penderita penyakit ini biasanya mengalami nyeri, bengkak, dan kaku pada sendi. Keluhan sering muncul pada beberapa sendi sekaligus dan dapat terjadi pada kedua sisi tubuh, misalnya kedua tangan, pergelangan tangan, atau kaki.
Salah satu keluhan yang cukup khas adalah nyeri dan kaku pada sendi setelah bangun tidur. Kekakuan ini biasanya berlangsung lebih lama dibandingkan kekakuan sendi yang disebabkan oleh aktivitas sehari-hari.
Penyakit ini tidak hanya memengaruhi sendi. Karena merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan di berbagai bagian tubuh, RA juga dapat memengaruhi bagian tubuh lain, termasuk mata, paru-paru, jantung, dan ginjal.
Ciri Khas Rematik
Ciri khas penyakit rematik (RA) dapat ditandai dengan kondisi berikut ini:
- Sendi nyeri dan kaku, terutama setelah bangun tidur
- Sendi kaku berlangsung lebih dari 30 menit
- Sering terjadi pada kedua sisi tubuh secara bersamaan
- Disertai dengan gejala mudah lelah dan demam ringan
- Lebih sering mengenai sendi kecil: jari tangan, pergelangan tangan, atau jari kaki
Pencegahan dan Cara Mengelola Rematik
Karena penyebab pasti artritis reumatoid belum diketahui, penyakit ini tidak dapat dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan mengelola gejala, antara lain:
- Hindari merokok atau paparan asap rokok
- Menjaga berat badan tetap sehat
- Rutin melakukan aktivitas fisik
- Mengelola stres dengan baik
- Mengikuti pengobatan dan melakukan kontrol rutin sesuai anjuran dokter
Selain pengobatan dan aktivitas fisik, pola makan seimbang juga penting untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Apa Itu Pengapuran Sendi (Osteoartritis)?
Pengapuran sendi atau Osteoartritis (OA) adalah salah satu jenis radang sendi yang terjadi ketika tulang rawan dan jaringan di dalam sendi mengalami kerusakan secara bertahap. Kondisi ini merupakan jenis radang sendi yang paling umum, terutama pada orang yang semakin bertambah usia.
Kerusakan pada sendi dapat menyebabkan nyeri, kaku, bengkak, dan berkurangnya kemampuan sendi untuk bergerak. Pengapuran sendi paling sering menyerang lutut, pinggul, tangan, leher, dan punggung bagian bawah.
Menurut WHO pada 2018, sekitar 151 juta orang di dunia mengalami kondisi ini, termasuk sekitar 24 juta orang di kawasan ASEAN. Di Indonesia, data Riskesdas 2018 mencatat sekitar 713.783 orang mengalami kondisi ini.
Penyebab dan Faktor Risiko Pengapuran Sendi
Penyebab pasti penyakit ini belum sepenuhnya diketahui. Namun, risiko terjadinya pengapuran sendi meningkat seiring bertambahnya usia karena jaringan dan tulang rawan di dalam sendi dapat mengalami perubahan.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko pengapuran sendi antara lain:
- Bertambahnya usia
- Pernah mengalami cedera atau operasi pada sendi
- Penggunaan sendi secara berulang dalam waktu lama
- Kelainan bentuk atau struktur sendi
- Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama
- Berat badan berlebih yang memberikan beban lebih besar pada sendi tertentu
Penyakit ini juga dapat terjadi pada orang yang lebih muda, terutama jika pernah mengalami cedera sendi atau memiliki masalah pada struktur sendi.
Gejala Pengapuran Sendi
Gejala pengapuran sendi biasanya muncul secara perlahan. Di fase awal mengenai satu atau beberapa sendi.
Keluhan yang umum dirasakan penderita penyakit ini antaranya nyeri dan kaku saat bergerak, sendi terasa lemah atau tidak stabil, hingga terdengar bunyi gesekan pada sendi.
Lokasi gejala dapat berbeda-beda. Pada lutut, misalnya, nyeri dapat terasa saat berjalan atau naik tangga. Sementara pada OA tangan, seseorang dapat mengalami nyeri dan perubahan bentuk pada sendi jari.
Ciri Khas Pengapuran Sendi
Berikut beberapa ciri khas pengapuran sendi yang dapat membantu membedakannya dari jenis radang sendi lainnya:
- Nyeri biasanya muncul atau bertambah saat sendi digunakan
- Nyeri dapat membaik setelah beristirahat
- Kaku terutama setelah bangun tidur atau lama tidak bergerak
- Kekakuan biasanya berlangsung kurang dari 30 menit
- Gejala berkembang secara perlahan
- Sering mengenai lutut, pinggul, tangan, leher, atau punggung bawah
- Gerakan sendi menjadi semakin terbatas
- Pada lutut, terkadang terdengar bunyi atau terasa seperti ada gesekan saat bergerak
Pencegahan dan Pengelolaan Pengapuran Sendi
Beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan dan mengurangi faktor risiko kondisi ini antara lain:
- Mencegah cedera pada sendi saat beraktivitas atau berolahraga.
- Menjaga berat badan tetap sehat untuk membantu mengurangi beban pada sendi.
- Menjaga postur tubuh dan posisi tubuh yang baik saat beraktivitas.
- Menghindari aktivitas yang memberikan beban berlebihan pada sendi secara berulang.
- Rutin melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang.
Selain aktif bergerak, asupan makanan bergizi juga penting untuk mendukung kesehatan tubuh dan sendi. Pilih makanan yang beragam, termasuk sumber antioksidan dan asam lemak omega-3.
Cara Membedakan Asam Urat, Rematik, dan Pengapuran Sendi
Berikut adalah ringkasan untuk membedakan nyeri sendi akibat asam urat (gout), Artritis Reumatoid (Rematik), dan pengapuran sendi/Osteoartritis (OA):
| Yang dibandingkan | Perbedaan utama |
| Penyebab | Gout: kristal urat menumpuk di sendi. RA: sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendi. OA: jaringan dan tulang rawan sendi mengalami perubahan dan kerusakan bertahap. |
| Awal nyeri | Gout: tiba-tiba dan sangat nyeri. RA: biasanya berkembang bertahap. OA: biasanya berkembang perlahan. |
| Kekakuan pagi | Gout: bukan ciri utama. RA: biasanya berlangsung >30 menit. OA: biasanya berlangsung <30 menit. |
| Jumlah sendi | Gout: sering hanya satu sendi saat serangan. RA: sering beberapa sendi sekaligus. OA: dapat mengenai satu atau beberapa sendi. |
| Pola sendi | Gout: sering tidak simetris. RA: sering mengenai kedua sisi tubuh secara simetris. OA: tidak harus simetris. |
| Lokasi yang sering terkena | Gout: terutama jempol kaki, kaki, pergelangan kaki, atau lutut. RA: tangan, pergelangan tangan, dan kaki. OA: lutut, pinggul, tangan, leher, dan punggung bawah. |
| Bengkak, merah, panas | Gout: sangat khas saat serangan. RA: dapat terjadi. OA: dapat terjadi, tetapi biasanya bukan ciri utama. |
| Ciri khas lainnya | Gout: dapat muncul tofus/tophi pada gout yang berlangsung lama. RA: dapat disertai mudah lelah dan gejala umum lainnya. OA: nyeri sering bertambah saat sendi digunakan dan gerakan sendi dapat semakin terbatas. |
Catatan: Ciri-ciri di atas hanya membantu mengenali perbedaan secara umum dan tidak dapat digunakan untuk memastikan diagnosis. Beberapa kondisi dapat memiliki gejala yang mirip. Jika nyeri atau pembengkakan sendi menetap, berulang, atau sangat mengganggu aktivitas, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
Untuk melihat perbedaan yang lebih spesifik antara asam urat dan pengapuran sendi, Anda dapat membaca Perbedaan Nyeri Sendi karena Asam Urat dan Pengapuran Sendi.
Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke Dokter?
Nyeri dan kaku pada sendi tidak selalu disebabkan oleh asam urat, artritis reumatoid, atau OA. Penyakit lain juga menimbulkan gejala yang mirip.
Segera periksakan diri Anda jika nyeri sendi muncul secara tiba-tiba, sangat sakit, disertai bengkak, kemerahan, terasa panas, demam atau menggigil.
Kondisi tersebut memang mirip dengan gout, tetapi bisa juga tanda adanya infeksi pada sendi dan membutuhkan penanganan oleh dokter.
Selain itu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika:
- Kondisi sendi semakin parah dan keluhan sering muncul.
- Kesulitan berjalan, menggenggam benda, atau melakukan aktivitas sehari-hari.
- Kekakuan sendi berlangsung lebih dari 30 menit saat bangun dari tidur dan terjadi berulang.
- Nyeri sendi disertai demam, menggigil, atau merasa sangat tidak enak badan.
Ciri-ciri yang disebutkan memang bisa merujuk pada ketiga penyakit di atas, namun gejala-gejala tersebut tidak cukup untuk memastikan diagnosis.
Pemeriksaan oleh dokter sangat disarankan untuk mengetahi penyebab pasti dari nyeri sendi yang Anda alami.
FAQ Seputar Perbedaan Asam Urat, Rematik, dan Pengapuran Sendi
Apa perbedaan utama antara asam urat, rematik, dan pengapuran sendi?
- Asam urat (gout): nyeri tiba-tiba, sangat hebat, sering pada jempol kaki, akibat kristal urat di sendi.
- Rematik (Artritis Reumatoid/RA): penyakit autoimun, nyeri pada beberapa sendi simetris (mis. kedua tangan), kekakuan pagi berlangsung lama.
- Pengapuran sendi (Osteoartritis/OA): kerusakan bertahap pada tulang rawan sendi, nyeri makin terasa saat sendi digunakan, kekakuan pagi berlangsung singkat, sering pada lutut, pinggul, dan tangan.
Apakah asam urat dan rematik itu sama?
Asam urat dan rematik bukan kondisi yang sama. Asam urat atau gout merupakan salah satu jenis radang sendi yang disebabkan oleh penumpukan kristal urat.
Sementara artritis reumatoid yang sering juga disebut sebagai rematik, merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh autoimun.
Apa bedanya nyeri sendi akibat asam urat atau rematik?
Ciri yang bisa membantu (bukan pengganti diagnosis dokter):
- Asam urat: nyeri tiba-tiba, sangat intens, sering pada satu sendi (terutama jempol kaki), bengkak, merah, terasa panas.
- Rematik (RA): nyeri pada beberapa sendi sekaligus, sering simetris, kekakuan pagi berlangsung lama, bisa disertai lelah.
Ciri-ciri tersebut dapat menjadi petunjuk, tetapi tetap membutuhkan diagnosis dari dokter atau tes laboratorium.
Apa ciri-ciri pengapuran sendi atau osteoartritis?
Pengapuran sendi biasanya berkembang secara perlahan. Nyeri sering bertambah saat sendi digunakan dan dapat membaik setelah beristirahat.
Kekakuan setelah bangun tidur atau lama tidak bergerak umumnya berlangsung kurang dari 30 menit.
Penyakit ini juga dapat menyebabkan gerakan sendi semakin terbatas dan terkadang menimbulkan bunyi atau sensasi seperti gesekan.
Kapan nyeri sendi perlu diperiksakan ke dokter?
Nyeri sendi sebaiknya diperiksakan jika menetap, sering kambuh, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Segera cari pertolongan medis jika nyeri sendi muncul tiba-tiba dan sangat berat, terutama jika disertai bengkak, kemerahan, rasa panas, demam, atau menggigil karena kondisi tersebut dapat disebabkan oleh infeksi atau masalah lain yang membutuhkan penanganan segera.
Penulis: Tim Edukasi Ostofit
Terakhir diperbarui: 08 Oktober 2026
Disclaimer: Konten ini disusun berdasarkan referensi medis terpercaya untuk tujuan edukasi, bukan pengganti saran medis profesional. Selalu konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan pengobatan.
